Seorang orientalis bernama Ignac Goldziher mengatakan bahwa hadits-hadits yang ada di zaman sekarang adalah hasil dari perbuatan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz dalam melanggengkan kekuasaannya.
Mereka juga berdalih bahwa sebelumnya di masa Sahabat, Nabi tidak menganjurkan penulisan hadits berdasarkan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Said al-Khudri:
🕌 Dua Hadis yang Bertentangan
Hadis 1 – Larangan Menulis
“Jangan kalian menulis dariku sesuatu pun selain Al-Qur’an. Barangsiapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya.”
(HR. Muslim, no.5326)
Hadis 2 – Perintah Menulis
“Aku biasa menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ… maka Rasulullah bersabda: 'Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar darinya selain kebenaran.’”
(HR. Abu Dawud, no. 3646, dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash)
🧠 Argumen Ulama Islam
Mayoritas ulama Islam menjelaskan bahwa:
-
Hadis pertama (larangan) berasal dari masa awal kenabian, ketika wahyu Al-Qur’an masih terus turun.
-
Hadis kedua (izin menulis) datang kemudian, setelah kekhawatiran akan pencampuran antara wahyu dan perkataan Nabi berkurang.
-
Oleh karena itu, izin menulis hadis menggantikan larangan sebelumnya.
Tapi… mari kita kritisi logikanya secara objektif dan historis.
🔍 Bantahan Logis dan Historis
1. Tidak ada bukti kronologis yang sahih
Ulama Islam menyatakan bahwa larangan lebih dahulu dan kemudian digantikan oleh izin. Namun tidak ada bukti konkret dalam teks hadis yang menyatakan kapan masing-masing hadis diucapkan Muhammad.
-
Tidak disebutkan tahun, konteks, atau peristiwa historis yang jelas.
-
Kesimpulan urutan waktu hanyalah asumsi, bukan berdasarkan data historis yang objektif.
>> Jadi, urutan “larangan dulu – izin kemudian” adalah spekulatif.
2. Larangan bersifat absolut
Hadis larangan menyatakan secara mutlak:
“Barangsiapa menulis sesuatu selain Al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya.”
Itu bukan larangan bersyarat, misalnya:
-
“Jangan menulis selama wahyu masih turun.”
-
Atau “Jangan menulis jika belum dipilah dari Al-Qur’an.”
Jelas bahwa larangan itu tidak memberikan ruang kompromi, dan tidak menjelaskan bahwa larangan itu hanya bersifat sementara.
>> Jika Nabi tahu bahwa suatu saat nanti hadis perlu dicatat, mengapa tidak memberikan syarat atau penjelasan?
3. Mengapa Sahabat Tidak Mengetahui Perubahan Ini?
Jika memang Nabi kemudian mencabut larangan itu, mengapa:
-
Banyak sahabat tetap tidak menulis hadis secara luas?
-
Umar bin Khattab (634–644 M) bahkan melarang penulisan hadis, dan memerintahkan pembakaran catatan hadis?
-
Imam Bukhari baru mengumpulkan hadis lebih dari 200 tahun setelah Nabi wafat?
>> Jika Nabi benar-benar mencabut larangan itu, mengapa butuh dua abad untuk mulai menghimpun hadis secara serius?
4. Perintah untuk Meneladani Nabi Menjadi Tidak Realistis
Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu...”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Namun jika:
-
Sabda dan perbuatan Nabi dilarang untuk dicatat,
-
Dan tidak boleh ditulis kecuali Al-Qur’an,
Maka bagaimana umat bisa meneladani Muhammad dengan akurat?
>> Larangan menulis hadis bertentangan dengan fungsi Muhammad sebagai “teladan yang harus diikuti”.
5. Apakah Allah Gagal Mengawasi Wahyu-Nya?
Jika alasan utama larangan menulis hadis adalah mencegah pencampuran dengan Al-Qur’an, maka pertanyaannya:
Apakah Allah tidak mampu menjaga wahyu-Nya dari pencampuran itu?
Apakah kita harus percaya bahwa integritas Al-Qur’an bergantung pada larangan menulis, bukan pada kuasa Allah?
>> Ini merendahkan konsep wahyu yang dijaga secara ilahi, sebagaimana yang diklaim dalam QS. Al-Hijr: 9.
🛑 Kesimpulan
-
Kontradiksi antara dua hadis tidak bisa dijelaskan dengan logika waktu, karena tidak ada bukti kronologis yang jelas.
-
Larangan menulis sangat eksplisit, tidak bersifat kondisional atau sementara.
-
Hadis tentang izin menulis tampaknya muncul belakangan sebagai rasionalisasi belaka, setelah umat Islam mulai menyadari kebutuhan dokumentasi.
-
Jika memang Nabi melarang pencatatan hadis, tradisi Islam tentang sunna dan hadith dibangun di atas fondasi yang bertentangan dengan perintah awal Muhammad sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar