Berikut penjelasan tentang kritik terhadap hadis
💡 1. Ada kelompok yang sejak awal menolak Hadis
-
Khawarij dan Mu'tazilah adalah dua kelompok awal yang menolak hadis.
-
Mereka khawatir hadis bisa menggantikan Al-Qur’an.
-
Mu'tazilah hanya menerima Al-Qur’an dan berpikir bahwa hadis terlalu mudah dimanipulasi dan tidak bisa diandalkan sebagai hukum.
-
Mereka hanya menerima hadis mutawatir (yang diriwayatkan oleh banyak orang) dan menolak hadis ahad (yang hanya diriwayatkan oleh satu-dua orang).
-
🧠 2. Perdebatan antara Akal dan Hadis
-
Di masa kekhalifahan Abbasiyah, khususnya di bawah Al-Ma’mun, digunakan pendekatan rasional (akal) dalam agama. Pendukung hadis malah diperlakukan kasar.
-
Tapi setelahnya, khalifah Al-Mutawakkil mendukung kembali penggunaan hadis secara penuh.
📚 3. Kritik dari Ulama Sunni Sendiri
-
Bahkan dalam Islam Sunni sendiri, hadis dalam kitab paling sahih seperti Bukhari dan Muslim juga pernah dikritik:
-
Imam Nawawi dan Al-Ghazali mengakui ada hadis yang sulit diterima akal, seperti:
-
Setan makan dari kotoran.
-
Manusia awalnya setinggi 60 hasta (±27 meter) lalu makin pendek.
-
-
Mereka tidak membuang hadis-hadis ini, tapi banyak yang ragu atau tidak tahu cara menjelaskannya.
-
🧪 4. Ilmu pengetahuan modern memperkuat keraguan
-
Beberapa hadis dianggap tidak masuk akal secara ilmiah, sehingga menimbulkan keraguan di kalangan Muslim modern.
-
Contohnya seperti hadis tentang ukuran tinggi Nabi Adam, atau hadis bahwa "setan berjalan dalam pembuluh darah manusia".
🔍 5. Kritik dari Teolog Rasionalis (Ahlul Kalam)
-
Ahlul Kalam berpendapat:
-
Kita harus mengikuti Nabi, tapi cukup dengan mengikuti Al-Qur’an.
-
Mereka menganggap metode penilaian hadis terlalu subjektif dan banyak hadis yang bertentangan satu sama lain.
-
“Hikmah” dalam Al-Qur’an bukan berarti hadis, tapi “penjelasan dari Al-Qur’an itu sendiri”.
-
🧩 6. Mu’tazilah Lebih Kritis Lagi
-
Mereka menganggap hadis terlalu mudah dipalsukan.
-
Mereka percaya bahwa isi hadis (matn) juga harus diteliti, bukan hanya rantai perawinya (isnad).
-
Seorang tokoh mereka, Ibrahim an-Nazzam, bahkan berkata: Hadis mutawatir pun belum tentu benar, karena manusia bisa keliru, bias, dan berbohong bersama-sama.
🧭 7. Kritik Modern: Fokus pada Sahabat dan Rantai Hadis
-
Di era modern, tokoh seperti Syed Ahmed Khan dan Maududi mulai mempertanyakan:
-
Apakah para sahabat bisa dipercaya? Karena ternyata mereka sering berselisih dan saling menuduh bohong.
-
Mereka menganggap hadis seharusnya disaring lewat Al-Qur’an dan akal sehat, bukan diterima mentah-mentah.
-
Beberapa hadis yang "aneh" mungkin hasil karangan di masa-masa setelah Nabi wafat.
-
🌐 8. Salafi dan Modernis Berbeda Pendekatan
-
Salafi (seperti Al-Albani) mendukung hadis, tapi tetap menyaring ulang dan menolak sebagian yang dianggap lemah.
-
Modernis dan Quranis seperti Muhammad al-Ghazali menolak hadis yang bertentangan dengan Al-Qur’an atau akal.
-
Misalnya, soal larangan makan daging sapi atau pembunuhan non-Muslim yang tidak dihukum—itu dianggap bertentangan dengan nilai keadilan Al-Qur’an.
-
✍️ 9. Shibli Nomani dan Maududi: Hadis Harus Ditimbang dengan Hukum dan Akal
-
Mereka percaya bahwa ilmu hadis tradisional terlalu fokus pada perawi, bukan pada isi.
-
Mereka ingin hadis dinilai dari sisi isi hukum dan nilai-nilai akal manusia.
📌 Intinya:
Hadis bukan ditolak total, tapi dikritisi secara rasional, sejarah, dan isi. Kritik ini datang dari:
-
Kelompok klasik seperti Mu’tazilah.
-
Ulama Sunni sendiri.
-
Tokoh pembaharu modern.
-
Bahkan dari dalam Salafi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar