๐น 1. Narasi Runtut dari Nabi ke Kekhalifahan Abbasiyah
Bukti: Struktur sejarah Islam dijadikan linier dan mulus
Al-Tabari menyusun sejarah Islam seolah-olah ada rantai tak terputus dari Nabi Muhammad → Khulafaur Rasyidin → Bani Umayyah → Abbasiyah.
Dalam kenyataan sejarah, transisi kekuasaan penuh konflik dan perang saudara (misalnya pembunuhan Utsman, Perang Jamal dan Shiffin, pembantaian Umayyah oleh Abbasiyah), tetapi dalam narasinya sering dibingkai sebagai “takdir Allah” atau “pemurnian kekuasaan”.
๐ Kesimpulan: Ini adalah cara menyatukan kekacauan sejarah dalam sebuah kerangka teologis yang menyokong kekuasaan Abbasiyah.
๐น 2. Penekanan pada Abbasiyah sebagai “Ahlul Bait”
Bukti: Abbasiyah diangkat sebagai pewaris sah kenabian
Al-Tabari menyisipkan riwayat yang memuliakan Abbasiyah sebagai bagian dari keluarga Nabi (meskipun secara genealogis mereka adalah keturunan paman Muhammad, bukan anak keturunannya).
Ia tidak menonjolkan peran rival Abbasiyah seperti Syi’ah Ali atau Zaidiyah, melainkan mengarahkan narasi untuk menampilkan Abbasiyah sebagai satu-satunya yang sah.
๐ Kesimpulan: Ini menunjukkan proyek “legitimasi teologis” untuk memperkuat klaim bahwa kekuasaan Abbasiyah adalah kelanjutan langsung dari kenabian.
๐น 3. Pemusatan Kekuasaan dan Citra Khalifah sebagai Bayangan Tuhan di Bumi
Bukti: Pemikiran politik teokratis diselipkan dalam narasi
Al-Tabari memuat konsep bahwa khalifah adalah pengganti Nabi (khalฤซfatullฤh) yang dipilih oleh Allah, bukan oleh rakyat. Ini menghapus gagasan syura (musyawarah) yang sebelumnya ditonjolkan dalam sejarah awal.
Dalam kisah tentang para khalifah Abbasiyah awal (seperti Abu al-Abbas dan Al-Mansur), mereka digambarkan sebagai figur religius, bijak, dan saleh, bahkan jika secara sejarah mereka adalah pemimpin brutal.
๐ Kesimpulan: Ini mendukung agenda absolutisme Abbasiyah dan memperkuat kultus kekuasaan.
๐น 4. Pemilihan dan Penyaringan Riwayat
Bukti: Narasi sejarah berdasarkan hadis dan perawi resmi Abbasiyah
Al-Tabari tidak menulis berdasarkan dokumen kontemporer abad ke-7, tapi dari riwayat lisan yang banyak berasal dari lingkaran istana atau periwayat yang hidup di bawah Abbasiyah.
Sumber seperti Sayf ibn Umar, yang digunakan Al-Tabari untuk Perang Ridda dan kisah penaklukan, dikenal lemah dan pro-Abbasiyah, bahkan dianggap pendusta oleh banyak ulama hadis.
๐ Kesimpulan: Ini mengindikasikan seleksi narasi sesuai kebutuhan ideologis zaman.
๐น 5. Penaklukan Diberi Nuansa Teologis
Bukti: Penaklukan Persia dan Bizantium dijadikan misi keagamaan
Kisah penaklukan wilayah Persia tidak hanya digambarkan sebagai peristiwa militer, tetapi diberi makna spiritual sebagai perluasan Islam dan kehendak Allah.
Ini sesuai dengan propaganda Abbasiyah bahwa mereka adalah penjaga misi suci Islam global.
๐ Kesimpulan: Ini menciptakan kesan bahwa ekspansi kekaisaran adalah bagian dari rencana ilahi, padahal sebenarnya banyak bermotif politik dan ekonomi.
๐ Referensi Pendukung dari Sejarawan Modern:
Patricia Crone dan Michael Cook dalam Hagarism: The Making of the Islamic World menyatakan bahwa banyak sumber tradisional, termasuk Tabari, adalah hasil rekonstruksi naratif pasca-fakta untuk menyatukan identitas Arab-Islam.
Fred M. Donner dalam Narratives of Islamic Origins menjelaskan bagaimana karya seperti milik Tabari menciptakan sejarah yang teologis, bukan netral atau faktual.
Robert G. Hoyland dalam Seeing Islam as Others Saw It menunjukkan bahwa sumber non-Muslim abad ke-7–8 bertentangan dengan narasi yang dikemukakan oleh Al-Tabari dan sejarawan tradisional Muslim.
๐งฉ Kesimpulan :
kita melihat bahwa karya Al-Tabari lebih bersifat ideologis-teologis daripada historis netral. Ia menulis ulang sejarah untuk mengabsolutkan peran Muhammad dan melegitimasi kekuasaan Abbasiyah, membingkai Islam sebagai agama negara yang dibentuk oleh kekaisaran, bukan sebagai gerakan wahyu yang orisinal dan spontan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar