1. Penambahan Cerita dalam Biografi Muhammad
Para penulis biografi Islam awal sering menambahkan detail dalam laporan tentang Muhammad. Contohnya, al-Waqidi menambahkan banyak detail pada cerita pendek tentang ekspedisi Kharrar yang dilaporkan secara sederhana oleh Ibn Ishaq. Patricia Crone menunjukkan bahwa tambahan ini, meski diklaim berasal dari sumber otoritatif, kemungkinan besar adalah legenda yang dikembangkan belakangan demi memperindah narasi.
2. Legenda-Legenda dalam Tradisi Islam
Sebagian peneliti, seperti Gregor Schoeler, beranggapan bahwa sumber-sumber awal seperti Urwa ibn al-Zubayr masih dapat diandalkan, meskipun telah hilang. Namun, jika narasi sederhana seperti ekspedisi Kharrar bisa berubah drastis dalam beberapa dekade, tidak ada jaminan bahwa kisah-kisah lain tidak mengalami hal yang sama karena motivasi politis, keagamaan, atau tujuan dramatis.
3. Ketidaksesuaian dengan Al-Qur’an
Al-Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa Muhammad bukanlah pekerja mukjizat. Berulang kali disebut bahwa tanda satu-satunya yang cukup adalah wahyu Al-Qur’an itu sendiri. Namun, biografi Ibn Hisham justru penuh dengan cerita mukjizat seperti penggandaan makanan, penyembuhan, dan mujizat-mujizat lainnya. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian yang serius antara isi Al-Qur'an dan biografi tradisional.
4. Kisah Bahira dan Nubuat Nabi Masa Depan
Ibn Hisham mencatat kisah Bahira, seorang biksu Kristen yang mengenali Muhammad muda sebagai calon nabi berdasarkan kitab-kitab Kristen. Kisah ini bertujuan meyakinkan bahwa bahkan orang Kristen mengakui kenabian Muhammad. Namun, cerita ini bertentangan dengan reaksi awal Muhammad terhadap wahyu (merasa kerasukan atau seperti penyair) dan penolakan keras dari Quraisy—bangsa Muhammad sendiri—yang seharusnya tahu nubuat itu jika memang sah.
5. Karakter Legendaris dalam Biografi
Kisah-kisah dalam biografi Muhammad memiliki karakter legenda dan tipologis yang mencerminkan kisah-kisah Yesus dalam Injil. Mereka disusun untuk memperkuat citra kenabian Muhammad, namun justru memunculkan kontradiksi dan keanehan, terutama bila dibandingkan dengan kesaksian Al-Qur’an sendiri.
6. Konsekuensi Historis
Karena biografi Ibn Hisham mengandung begitu banyak legenda dan mukjizat yang tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, keandalan sejarahnya diragukan. Jika biografi ini tidak dapat dipisahkan dari fiksi religius, maka banyak informasi yang dianggap sejarah tentang Muhammad menjadi tidak dapat dipertahankan secara kritis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar